Showing posts with label Berita Sawit. Show all posts
Showing posts with label Berita Sawit. Show all posts

Alasan Kenapa Buah Sawit Dari Petani Dihargai Lebih Rendah Dari Yang Ditetapkan


Perbedaan harga yang mencolok dengan yang diumumkan oleh tim dari dinas perkebunan biasanya terjadi kepada petani biasa atau petani bukan plasma. Harga yang mendekati atau sama dengan harga yang ditetapkan oleh tim dari dinas perkebunan biasanya berlaku bagi petani plasma atau perkebunan yang sudah mapan dalam artian sudah menerapkan prinsip-prinsip perkebunan sawit yang memenuhi standar yang sudah ditetapkan. Petani Plasma biasanya dididik oleh PT perkebunan sawit, dimana mereka kemudian biasanya langsung menampung buahnya.



Petani plasma menjual TBS sawit lebih tinggi dari petani biasa karena mereka menjualnya langsung kepada perusahaan (PKS) atau biasanya melalui kerjasama dengan koperasi.

Petani bukan plasma atau petani biasa, biasanya menjual buah sawit secara tidak langsung kepada pabrik sawit (PKS), namun melalui tauke-tauke atau juragan buah sawit yang ada disekitar perkebunan sawit.

Menjual sawit kepada tauke sawit, tentu dihargai lebih murah daripada menjual langsung ke pabrik sawit atau ke koperasi yang menjembatani mereka.

Ada berbagai alasan yang dikemukakan oleh para tauke/broker/agen/juragan sawit kenapa mereka membeli buah sawit (TBS) dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditetapkan oleh tim dari dinas perkebunan propinsi, antara lain :

  • Tauke sawit atau juragan sawit memang mencari laba, melalui usaha sebagai perantara pembeli buah sawit.
  • Tauke membeli buah dari perkebunan swadaya masyarakat tidak berdasarkan usia tanamanan, tapi harga dipukul rata mulai usia 3 – 25 tahun.
  • Rendemen buah sawit dari petani non plasma dianggap rendah, hal ini diakibatkan oleh :
    • Tandan Buah Sawit yang dipetik tidak memenuhi kriteria matang (kurang matang / kurang masak)
    • Buah-buahan cacat / luka atau memar
    • Buah atau brondolan kurang bersih, tercampur dengan tanah, debu, kerikil, daun-daunan dll.
    • buah terlalu matang
  • Agen/toke sawit kurang percaya dengan petani, untuk petani tertentu bahkan dihargai dengan sangat rendah. Dengan alasan setiap panen sering dijumpai adanya buah dengan kualitas kurang baik. Buah yang kurang baik ini antara lain karena :
    • Buah terlalu cepat dipanen/kurang masak.
    • Buah terlalu matang
    • Buah merupakan hasil panen dari jenis bibit sawit yang kurang baik.
    • adanya tandan kosong
    • beberapa petani nakal mencampur buah dari sawit yang sudah berumur tua dengan sawit yang masih muda.
    • petani curang yang di blacklist tauke/agen, misalnya : ketahuan diam-diam menyiram buahnya agar bertambah berat, menyisipkan buah2 jantan dll.
  • Kondisi jalan ke PKS yang kurang mendukung :
    - Jarak lokasi yang jauh ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit)
    - Jalan rusak / jalan lagi diperbaiki
    - Jalanan selalu macet
    - Di tengah jalan banyak tilangan atau banyak pungutan liar
  • Jumlah agen/toke pembeli sawit tidak sebanding dengan luas lahan yang sudah siap panen, akibatnya tauke merasa berkuasa menentukan harga.
  • Adanya antrian yang panjang di PKS, antrian ini sendiri berakibat biaya operasional bertambah, karena :
    - Sopir minta biaya atau ongkos tambahan
    - Terjadi penyusutan berat buah
    - Resiko buah busuk,
    - dll
  • Kondisi cuaca (hujan lebat dll)
  • Sortir PKS tertentu yang sangat ketat, sehingga agen tidak mau ambil resiko. Untuk berjaga-jaga dari resiko itulah agen/tauke sawit menekan harga ke petani.
  • Resiko kejahatan (jalan melewati daerah sepi dan rawan), banyak preman, pungutan liar dsb.

Macam-macam Hama Pohon Kelapa Sawit


Ada banyak macam-macam hama yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit, antara lain :

1. Hama Nematoda
Penyebab : Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus
Gejala yang terserang hama ini :
• Daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak.
• Daun berubah menjadi kuning kemudian mongering.
• Tandan bunga membusuk dan tidak membuka sehingga tidak menghasilkan buah.
Pengendaliannya : meracuni pohon yang terserang dengan natrium arsenit dan setelah mati /
kering segera dibongkar untuk menghilangkan sumber infeksi.

2. Hama Tungau
Penyebab : Tungau merah ( Oligonychus )
Tungau ini berukuran 0,5 mm, hidup disepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan daun sehingga warna daun berubah menjadi mengkilat berwarna bronz.
Hama ini berkembang pesat dan membahayakan dalam keadaan cuaca kering pada musim kemarau.
Gangguan tungau pada pesemaian dapat mengakibatkan rusaknya bibit.
Pengendalian : penyemprotan dengan akarisida Tetradifon (Tedion) 0,1 – 0,2 %. Racun ini dapat digunakan dengan baik karena tidak membunuh musuh alaminya.

3. Hama serangga.

3.1 Hama ulat setora, Setora nitens.
Kupu-kupu Setora meletakkan telurnya di bawah permukaan daun dekat pada ujungnya. Ulat Setora memakan daun dari bawah, sehingga kadang-kadang yang tersisa hanya lidinya saja.
Pengendalian : Ulat ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan racun kontak, misalnya Hostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban 20 EC dengan konsentrasi 0,2 – 0,3 %.

3.2 Kumbang oryctes , Oryctes rhinoceros
Gejala serangan : Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan bagian yang lunak.bila serangan mengenai titik tumbuh, tanaman akan mati, tetapi bila makan bakal daun hanya menyebabkan daun dewasa rusak seperti terpotong gunting.
Pengendalian : untuk mencegah berkembangnya hama ini, kebersihan di sekitar tanaman harus dijaga baik. Sampah-sampah atau pohon yang mati dibakar agar larva hama ini mati.
Pemberantasan secara biologis dengan menggunakan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

3.3 The oil palm bunch moth
Penyebab : Ngengat Tirathaba mundella
Gejala serangan : Telur-telur Tirathaba diletakkan pada tandan buah terutama pada
buah-buah yang telah masak atau busuk. Setelah menetas, ulat atau larva melubangi buah-buah muda atau memakan permukaan buah yang matang.
Pengendalian : Ulat Tirathaba dapat dikendalikan dengan Dipterex atau Thiodan.
Caranya sbb. : 0,55 kg Dipterex atau Thiodan dilarutkan dalam air sebanyak 370 liter (dosis per hektar) dan diaduk sampai merata, selanjutnya disemprotkan pada kelapa sawit yang terserang ulat Tirathaba tersebut.

4. Mamalia
Hama yang termasuk mamalia (binatang menyusui) adalah babi hutan dan kera. Hama ini sangat merusak tanaman kelapa sawit. Di beberapa daerah tertentu di Sumatera, gajah sering menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa sawit muda. Selain itu juga tikus (rodentia) merupakan hama yang merusak (memakan) buah kelapa sawit yang sudah tua.

Pengendalian Gulma, Pengendalian Hama dan Penyakit


Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air dan cahaya. Selain itu pengendalian gulma juga bertujuan untuk mempermudah kegiatan panen. Contoh gulma yang dominan di areal

pertanaman kelapa sawit adalah Imperata cylindrica, Mikania micrantha, Cyperus rotundus, Otochloa nodosa, Melostoma malabatricum, Lantana camara, Gleichenia linearis dan sebagainya. Pengendalian gulma dilakukan dengan cara penyiangan di piringan (circle weeding), penyiangan gulma
yang tumbuh di antara tanaman LCC, membabat atau membongkar gulma berkayu dan kegiatan buru lalang (wiping).

Pengendalian Hama dan Penyakit
Tanaman kelapa sawit tergolong tanaman kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman sawit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus.

a. Hama

Tungau
Penyebab: Tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun.
Gejala: Daun menjadi mengkilap dan berwarna kecoklatan.
Pengendalian: Penyemprotan dengan akarisida yang berbahan aktif tetradion 75,2 gr/lt (Tedion 75 EC) disemprotkan dengan konsentrasi 0,1-0,2%.

Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja.
Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

Nematoda
Penyebab: Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus.
Hama ini menyerang akar tanaman kelapa sawit.
Gejala: Daun-daun muda yang akan membuka menj adi tergulung dan tumbuh tegak. Selanjutnya daun berubah warna menjadi kuning dan mengering.  Tandan bunga  membusuk dan tidak membuka, sehingga tidak  menghasilkan buah.
Pengendalian: Tanaman yang terserang diracun dengan natrium arsenit. Untuk memberantas sumber infeksi, setelah tanaman mati atau kering dibongkar lalu dibakar.

Kumbang
Penyebab: Oryctes rhinoceros. Serangan hama ini cukup membahayakan jika terjadi pada tanaman muda, sebab jika sampai mengenai titik tumbuhnya menyebabkan penyakit busuk dan mengakibatkan kematian.
Pengendalian: Menjaga kebersihan kebun, terutama di sekitar tanaman. Sampah-sampah dan pohon yang mati dibakar, agar larva hama mati.
Pengendalian secara biologi dengan menggunakan jamur Metharrizium  anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

Penggerek Tandan Buah
Penyebab: Ngengat Tirathaba mundella. Hama ini meletakkan telurnya pada tandan buah, dan setelah menetas larvanya (ulat) akan melubangi buah kelapa sawit.
Pengedalian: Semprot dengan insetisida yang mengadung bahan aktif triklorfom 707 gr/lt atau endosulfan 350 gr/lt,

Ulat Api
Penyebab: Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta.
Hama pemakan daun.
Gejala: Helaian daun berlubang atau habis sama sekali sehingga hanya tinggal tulang daunnya. Gejala ini dimulai dari daun bagian bawah.
Pengendalian: Semprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos 242 gr/lt karbaril 85 %, dan klorpirifos 25 ULV.

a. Penyakit

Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. yang menyerang bagian akar.
Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman  dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar.
Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.

Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum yang menyerang bagian daun.
Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering.
Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan penggunaan Natural GLIO semenjak awal.

Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa yang menyerang bagian batang.
Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering.
Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.

Bud Rot
Penyebab: bakteri Erwinia. Penyakit ini sering berkaitan  erat dengan serangan hama kumbang (Oryctes rhinoceros). Setelah hama menyerang titik tumbuh, kemudian dilanjutkan dengan serangan penyakit ini yang
menrupakan serangan sekunder.
Gejala: kuncup yang di tengah membusuk sehingga mudah dicabut dan berbau busuk. Akibatnya tanaman akan mati dan jika tetap hidup daun tumbuh tidak normal,  kerdil dan kurus.

Pengendalian: belum ada cara efektif yang ditemukan dalam pemberantasan penyakit ini. Untuk pencegahannya yaitu menjaga kebersihan (sanitasi) kebun terutama di sekitar tanaman.

Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum bisa mengatasi, dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan, tambahkan perekat perata AERO 810, dosis ± 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

UGM Manfaatkan Ampas Kelapa Sawit Untuk BBM



TERASJAKARTA – Peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Arief Budiman memanfaatkan ampas tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar minyak alternatif pengganti energi fosil.

“Melalui Integrated Authothermal Technology (IAT), dari ampas tandan kosong kelapa sawit bisa dihasilkan gasoline dan kerosene, yakni sumber bahan bakar cair untuk premium, minyak tanah, dan avtur,” kata Arief di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, sebelumnya dirinya mencoba menggunakan bahan biomassa dari sumber yang lain, tetapi akhirnya memilih ampas tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku. Alasannya, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit nomor dua di dunia.

“Pada proses pengambilan minyak CPO dari kelapa sawit dihasilkan limbah padat, sekitar 30-40 persen berupa tandan kosong, cangkang, pelepah, dan batang sawit,” kata dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Ia mengatakan produksi sawit di Riau saja berkisar 6 juta ton per tahun dengan limbahnya berkisar 1,8-2,4 juta ton. Limbah tersebut bisa dimanfaatkan untuk “engine fuel” karena limbah biomassa itu mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

“Melalui IAT saya bersama peneliti lain mengembangkan teknologi autothermal yang merupakan kombinasi pirolisis cepat dan lambat serta tidak perlu menggunakan sumber panas dari luar. Alat yang berupa reaktor pirolisis, cyclone untuk memisahkan hasil gas dan padat, dan kondenser untuk mengembunkan gas hasil,” katanya.

Menurut dia, dari proses pirolisis limbah padat itu nanti dihasilkan gas yang berupa bio-oil. Kemudian bio-oil diubah lagi menjadi gasoline dan kerosene melalui proses “cracking” dengan menggunakan katalis berbasis limbah biomassa atau oksidasi parsial.

“Melalui alat itu dua kilogram ampas tandan kosong kelapa sawit mampu menghasilkan 80 mililiter bio-oil. Hal itu dilakukan melalui proses pirolisis selama dua jam, kemudian proses perengkahan atau pemisahan bio-oil menjadi gasoline dan kerosene selama 30 menit,” katanya.

Ia mengatakan untuk kapasitas yang lebih besar tentu juga membutuhkan alat yang lebih besar. Saat ini dirinya sedang mencoba menawarkan ke pemerintah atau industri untuk bekerja sama mengembangkan teknologi pengembangan biomassa sebagai sumber bahan bakar baru dan terbarukan.

“Dari sisi sumber daya manusia, Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain. Sekarang tergantung niat dan komitmen dari pemerintah,” katanya. (TJ13)

sumber : terasjakarta.com

Pendapatan Petani Plasma Sawit Rp 4,1 Juta / Ha



KOTABARU — Pendapatan petani plasma kelapa sawit di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, periode November kisaran Rp 4,1 juta per hektare.

Anggota Badan Pengawas Koperasi Unit Desa Gajah Mada, Narso, Sabtu, mengatakan, pendapatan petani plasma sawit Sangking Baru sebesar Rp4,1 juta per ha, Blok C Rp 2,5 juta per ha.


“Hasil plasma di Blok B sebesar Rp 2,5 juta, SP 2 sebesar Rp 2,6 juta per ha, Sungai Nipah Rp 4 juta per ha, dan SP 1 sebesar Rp 2,5 juta per ha,” ujarnya.

Selanjutnya SP 4, sebesar 3 juta per ha, SP 5 sebesar Rp 2,9 juta, Pembelacanan sebesar Rp 3 juta, Plajau Baru sebesar Rp 1,9 juta, Pulau Panci sebesar Rp1,9 juta dan cantung sebesar Rp 2,3 juta.

Dibandingkan dengan periode sebelumnya, hasil plasma kelapa sawit kisaran Rp 900 ribu per ha-Rp 2,3 juta per ha.

Naiknya pendapatan petani plasma salah satunya disebabkan naiknya jumlah tandan buah segar (TBS), yang dipanen setiap dua kali sebulan.

Seorang anggota petani palsa di Bumi Asih, Kelumpang Selatan, Sani, menyambut naiknya hasil panen kelapa sawit dengan wajah sumringah.

Bagaimana tidak, disaat anaknya perlu membayar biaya semesteran di Fakultas Kedokteran Unlam, hasil panen sawit naik drastis.

“Alhamdulillah, hasilnya cukup untuk membayar biaya semesteran anak kami,” ucap Sani dengan wajah sumringah.

Petani plasma lainnya, Abu Bakar, menambahkan, dengan naiknya pendapatan plasma pihaknya bisa membayar angsuran di KUD Gajah Mada.

“Mudah-mudahan dengan naiknya pendapatan plasma, pinjaman di Koperasi Gajah Mada akan lebih cepat lunas,” katanya.

Ia mengaku, selama mempunyai pinjaman di KUD Gajah Mada, pihaknya tidak pernah menerima pendapatan hasil kebun plasma sawit.

“Semua penghasilan dari plasma digunakan untuk membayar angsuran sekitar Rp150 juta beberapa waktu lalu,” katanya menambahkan.


umber : republika.co.id

Produsen Penyedia Bibit Sawit



Salah satu kunci sukses perkebunan kelapa sawit adalah bibit/benih kelapa sawit. Di Indonesia ada beberapa produsen yang telah mendapatkan izin dari pemerintah untuk memproduksi dan menjual bibit/benih atau kecambah kelapa sawit. Setiap  produsen memiliki dan menyediakan beberapa jenis varietas unggul yang sudah teruji dan sudah banyak dipakai oleh para petani sawit. Jumlah varietas  unggul yang sudah dihasilkan oleh  produsen bersertifikat/resmi tersebut sudah mencapai 34 jenis varietas sawit unggul.
Produsen yang menyediakan bibit/benih atau kecambah tersebut antara lain adalah :
  1. PT Bakti Tani Nusantara di Kepulauan Riau
  2. PT Bina Sawit Makmur di Suamatera Selatan
  3. PT Dami Mas di Riau
  4. Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Sumatera Utara
  5. PT London Sumatera Indonesia di Sumatera Utara
  6. PT Sasaran Ehsan Mekarsari
  7. PT Tania Selatan di Sumatera Selatan
  8. PT Tunggal Yunus di Riau
  9. PT Socfin Indonesia di Sumatera Utara
Benih/bibit atau kecambah yang dihasilkan dan diperjual-belikan di luar para produsen tersebut kebanyakan kurang berkualitas atau hasil yang didapatkan kelak tidak mencapai nilai maksimum. Dan perlu diketahui bibit atau benih tersebut bisa dikategorikan sebagai bibit ilegal.
Perlu juga diketahui bahwa ada beberapa perusahaan, institusi atau koperasi yang ditunjuk sebagai mitra atau bekerjasama dengan para produsen tersebut.  Dalam hal ini petani harus hati-hati dan harus memastikan bahwa insitusi atau perusahaan tersebut memang bekerjasama dengan  produsen bibit  resmi tersebut.
Produsen bibit sawit tidak memiliki agen atau distributor penjualan, sehingga untuk pemesanan bibit langsung ditujukan ke produsen pembibit resmi tersebut. Sistem pembayaran bibit yang dipesan langsung di transfer atau ke rekening perusahaan. Jadi jika ada orang atau oknum yang menjual bibit dengan mengatakan bahwa dirinya memiliki benih dari salah satu produsen tersebut bisa jadi bibit tersebut adalah bibit yang tidak jelas asal-usulnya.
Saat ini memang ada institusi yang menyatakan sebagai jembatan atau perantara yang  bisa memesankan bibit tersebut ke produsen resmi. Namun dalam hal ini institusi tersebut hanya bertindak untuk membantu mengirimkan dokumen-dokumen permohonan pembelian bibit ke produsen resmi oleh para petani yang diisi sendiri oleh para petani. Institusi ini antara lain koperasi yang mencoba membantu para petani yang kurang memahami prosedur dan alamat produsen. Hal ini mungkin sah-sah saja, namun para petani harus tetap berhati-hati terhadap oknum yang bisa memanfaatkan peluang untuk mencari untung dengan melakukan hal-hal negatif. Misalnya menukar bibit asli dari produsen resmi yang telah sampai dengan bibit lain. Di sini diperlukan kepercayaan antara petani dan institusi tersebut.

Cara Cerdas Memilih Benih Kelapa Sawit yang Berkualitas



Tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack) sudah mulai ditanam secara komersial di Indonesia sejak tahun 1911. Pertama kali kelapa sawit dikembangkan di pulau Sumatera. Namun pada masa itu hingga puluhan tahun sesudahnya perkembangan kelapa sawit stagnan. Belum banyak industri yang memanfaatkan hasil dari perkebunan ini pada masa itu. Sehingga, minat masyarakat dan pengusaha untuk mengembangkan komoditi ini sangat rendah.


Namun, semenjak 1980-an perkembangan kelapa sawit mulai tampak menunjukkan geliatnya. Beberapa perusahaan besar baik swasta maupun perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perkebunan yang melihat potensi pasar Crude Palm Oil (CPO) mulai membuka lahan-lahan perkebunan kelapa sawit baru. Hingga 2 (dua) dekade terakhir sangat terlihat jelas betapa pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit. Baik dari pertambahan luas areal tanam, maupun dari sisi peningkatan produksi buahnya.

Ternyata, potensi besar kelapa sawit ini tidak hanya dilihat oleh perusahaan besar. Para petani dan individu di daerah pun mulai melihat peluang besar yang dijanjikan oleh komoditi ini. Sehingga, tidak heran para petani yang awalnya mengembangkan tanaman karet dan kakao mulai banting setir ke komoditi ini.
Tidak dapat dipungkiri, kelapa sawit sudah menjawab sebagian besar masalah perekonomian masyarakat dewasa. Tidak sedikit tenaga kerja yang diserap oleh sektor ini. Investasi di bidang perkebunan kelapa sawit terus meningkat setiap tahun. Sehingga, sektor perkebunan ini tidak boleh dipandang sebelah mata.
Saat ini, luas areal penanaman kelapa sawit sudah tersebar ke seluruh pulau-pulau besar di Indonesia. Seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hingga tahun 2008, luas areal pertanaman kelapa sawit tercatat seluas 7,01 juta hektar yang tersebar pada keempat pulau besar tersebut.

Benih Kelapa Sawit

Apakah Anda termasuk petani yang mulai melirik usaha perkebunan kelapa sawit? Jika iya, hal pertama yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana mendapatkan benih yang baik dan berkualitas. Ya, faktor utama yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit adalah kualitas benihnya disamping faktor pendukung lainnya.

Indonesia sebenarnya adalah penghasil benih kelapa sawit terbesar di dunia. Tingkat produksinya mencapai 167 juta kecambah per tahun. Namun, angka produksi tersebut ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan benih kelapa sawit yang terus meningkat setiap waktu.

Teknologi perbenihan pada tanaman kelapa sawit memang tegolong rumit, tidak semudah tanaman perkebunan lain. Apalagi, tanaman kelapa sawit pada umumnya hanya diperbanyak secara generatif (biji). Sehingga, proses untuk menghasilkan biji yang baik tidak hanya sulit, akan tetapi juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Meskipun belakangan mulai dikenal teknik perbanyakan secara vegetatif yaitu melalui kultur jaringan, namun teknik ini belum banyak dikembangkan. Sehingga, menghasilkan benih secara generatif masih menjadi pilihan bagi sebagian besar perusahaan sumber benih.

Di Indonesia, benih unggul yang umum digunakan saat ini adalah hasil persilangan antara “Dura” dan “Pisifera” atau hibrida D x P. Di mana Dura dipilih sebagai pohon induk betina dan Pisifera sebagai pohon induk jantan. Dan tanaman hasil persilangan ini kemudian disebut dengan Tenera. Varietas inilah yang kemudian banyak dikembangkan di perkebunan-perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana Memilih benih Kelapa Sawit yang Baik?
Hal pertama yang paling menentukan produktivitas tanaman kelapa sawit adalah benih yang berkualitas. Tanpa mengesampingkan faktor luar seperti pemupukan dan perawatan tanaman lainnya. Oleh karena itu, hal pertama yang harus diperhatikan ketika ingin mengembangkan kelapa sawit adalah bagaimana memilih benih kelapa sawit yang baik?

Berikut adalah beberapa tips sederhana yang bisa Anda gunakan untuk memilih benih kelapa sawit yang baik dan benar :

Pertama : kenali kriteria standar benih kelapa sawit yang baik.
Perlu diketahui bahwa benih kelapa sawit yang baik dan berkualitas memiliki beberapa kriteria standar. Diantaranya yaitu:

a.  Berat biji minimal 0,8 gram
b.  Panjang radikula dan plumula sudah mencapai lebih kurang 2 cm.
c.  Arah tumbuh radikula dan plumula berlawanan arah
d. Warna radikula dan plumula putih kekuningan, segar dan tidak lembek.
e. Radikula dan plumula sudah bisa dibedakan dengan jelas.
f. Kecambah harus bebas dari pengaruh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Selain benih, beberapa penangkar juga memproduksi dan menjual bibit dalam polybag yang siap dikembangkan. Berikut adalah beberapa standar bibit dalam polybag yang baik, yaitu:

a.       Umur bibir yang baik berkisar antara 10-12 bulan.
b.      Tinggi bibit antara 102 s/d 126 cm
c.       Jumlah daun minimal 15 pelepah dan maksimal 18 pelepah
d.      Lilit batang antara 17-18 cm
e.       Warna daun dan pelepah hijau tua
f.       Bibit  terbebas dari serangan OPT.
g.      Polibag yang digunakan sebaiknya berwarna hitam dan berukuran 50 x 40 cm x 0,2 mm

Bahan tanam dalam bentuk bibit  ini sebenarnya  lebih praktis untuk dikembangkan, karena petani tidak perlu lagi repot-repot menyemai kecambah. Petani cukup memelihara bibit hingga siap dipindahkan ke polybag yang lebih besar sebelum dipindahkan ke lobang tanam. Hanya saja, kekurangan bibit ini adalah dibutuhkan tempat yang luas untuk pengangkutan. Dan kemungkinan bibit mati atau mengalami stres selama pengangkutan sangat besar.

Kedua : Memesan langsung pada sumber benih atau penangkar bibit resmi yang ditunjuk oleh pemerintah.
Langkah aman untuk mendapatkan benih sawit yang berkualitas adalah dengan memesan langsung pada sumber benih resmi yang telah mendapat legalitas dari pemerintah. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mengetahui suatu sumber benih kelapa sawit yang dituju resmi atau tidak? Sejauh ini ada delapan sumber benih resmi yang memproduksi benih kelapa sawit, yaitu:
  1. Sungai Pancur I dan Sungai pancur II
  2. AVROS, Lame, Yangambi, Langkat, Simalungun
  3. PPKS 540 dan PPKS 718,
  4. Bah Lias I, Bah Lias II, Bah Lias III, Bah Lias IV
  5. Dami Mas I, Dami Mas II, Dami Mas III, Dami Mas IV dan Dami Mas V
  6. Topaz I, Topaz II, Topaz III dan Topaz IV
  7. Sriwijaya I, Sriwijaya II, Sriwijaya III, Sriwijaya IV, Sriwijaya V dan Sriwijaya VI
  8. TS I, TS II, TS III,
Sementara untuk bibit dalam polybag, sebaiknya pesan langsung pada penangkar bibit yang melaksanakan waralaba atau bekerjasama langsung dengan sumber benih resmi. Untuk info lebih lanjut mengenai sumber benih resmi dan penangkar bibit resmi ada baiknya Anda mengunjungi Dinas yang membidangi Perkebunan di Provinsi/Kabupaten terdekat.

Ciri-ciri Bibit Kelapa Sawit yang Gagal



Bila kita membuat bibit kelapa sawit, yakni menumbuhkan kecambah kelapa sawit, maka hampir pasti akan ada yang tumbuh dengan tidak baik atau gagal, meskipun asalan bibit adalah dari bibit unggul yang resmi. Bibit yang gagal ini harus diafkir atau dibuang, karena tidak layak untuk ditanam. Bila dipaksakan, maka akan berakibat tidak baik bagi produksi TBS nantinya.

Proses penyortiran bibit kelapa sawit yang gagal ini dilakukan pada dua tahapan, yakni ketika masih di prenursery (bibit kecil/bebi) dan sesudah di tahap main nursery (bibit besar).
Adapun penyebab gagalnya bibit tumbuh dengan baik atau jadi menyimpang antara lain dapat diakibatkan oleh faktor genetis (keturunan), kerusakan mekanis, salah penanganan, serangan hama dan penyakit, serta kesalahan kultur teknis. Berikut beberapa kesalahan teknis penanaman yang menyebabkan bibit tumbuh abnormal :
  1. Penanaman kecambah terbalik, bakal daun ditanam ke arah bawah.
  2. Kecambah ditanam terlalu dalam sehingga pertumbuhan terlambat atau terlalu dangkal sehingga akar menggantung.
  3. Tanah mengandung bebatuan (tidak disaring), sehingga mengganggu akar
  4. Tanah terlalu basah, karena air tidak terbuang dari kantong plastik atau penyiraman tidak sempurna (terlalu keras dan banyak atau terlalu sedikit).
Angka rerata bibit yang gagal ini adalah antara 6%-15%. Bibit yang mati harus dibuang dan bibit yang gagal harus diafkir untuk dimusnahkan.
Adapun ciri-ciri bibit pada prenursery yang termasuk kategori bibit gagal adalah :
  1. Anak daun sempit dan memanjang seperti daun lalang (narrow leaves).
  2. Anak daunnya bergulung kearah longitudinal (rolled leaves).
  3. Pertumbuhan bibit memanjang (erreted), terputar (twisted shoot), tumbuh kerdil, lemah, dan lambat  (insufficient growth, dwarfish).
  4. Daunnya kusut (crinkled), anak daun tidak mengembang, membulat, dan menguncup (collante).
  5. Rusak karena serangan penyakit tajuk (crown disease)
Proses seleksi di tahap ini dilakukan pada saat umur bibit dua bulan dan pada saat akan dipindahkan ke polibag besar.
Adapun ciri-ciri bibit kelapa sawit yang menyimpang pada tahap main nursery adalah :
  1. Bibit yang memanjang kaku (errectic), tinggi melebihi rata-rata, dan daunnya kaku.
  2. Bibit yang permukaannya rata (flat) dan daun muda lebih pendek.
  3. Bibit yang merunduk (limp).
  4. Bibit yang daunnya tidak membelah (fused leaflet).
  5. Anak daun pendek (short leaflet), sempit, dan selalu menggulung.
Seleksi di main nursery dilakukan dalam empat tahap sebagai berikut :
  1. Setelah bibit berumur 2 bulan.
  2. Setelah bibit berumur 4 bulan.
  3. Setelah bibit berumur 8 bulan.
  4. Saat bibit dipindahkan ke lapangan.
Proses seleksi bibit sawit besar ini biasanya akan mengambil korban sebesar 8%-12%.
Dari perhitungan di atas, maka para pembibit haruslah menyediakan restan atau cadangan paling tidak sebesar 27%. Ditambah dengan persediaan untuk tanaman sisipan yang jumlahnya bisa mencapai 15%, maka pembibit secara global harus membibitkan kecambah sawit lebih banyak 42% dari kebutuhan jumlah tanaman sawit di lapangan. Menurut kami, jumlah terbaik adalah 150%. Artinya, bila lahan perkebunan petani cukup untuk 100 pohon kelapa sawit, maka ia harus membibitkan kecambah sebanyak 150 butir.

Bibit Sawit Murah, Masyarakat Perlu Waspada



SAMARINDA. Kaltim telah menetapkan program Sejuta Hektar Sawit dan kebijakan ini membuka peluang semua pihak untuk berkontribusi menyukseskannya. Namun, perlu diwaspadai karena tidak sedikit aksi yang dilakukan pihak tidak bertanggungjawab dengan menawarkan bibit sawit harga murah.
Guna mengantisipasi serta meminimalisir peredaran benih kelapa sawit palsu di Kaltim, maka Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim mengumpulkan penangkar/waralaba kelapa sawit dan Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK).


“Disbun selaku instansi teknis bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan secara intensif terhadap peredaran bibit sawit. Kami mengimbau agar petani tidak tergoda membeli bibit sawit dengan harga murah,” kata Kepala Disbun Kaltim Etnawati didampingi Kepala Bidang Produksi Sukardi usai pertemuan di Hotel Grand Sawit Samarinda, pekan lalu.

Para petani diharapkan lebih jeli saat membeli bibit maupun benih sawit terutama jika bibit tersebut tidak disertai dengan dokumen sertifikat, maka berarti benih yang ditawarkan itu diragukan keasliannya.Bibit sawit palsu ini biasanya dibeli petani atau pekebun (plasma) karena terpengaruh penawaran harga yang murah. Padahal, bibit itu sudah jelas tidak dilengkapi sertifikat sebagai jaminan dari penangkar yang ditunjuk pemerintah.

Walaupun diantara petani yang mengetahui bibit tanpa sertifikat diindikasikan benih palsu namun karena terpengaruh dengan harga murah akhirnya tetap membeli.

“Kita akan terus memberikan pemahaman kepada petani tentang kerugian membeli bibit palsu ini,” jelasnya.
Upaya yang dilakukan melibatkan para penangkar/waralaba yang berperan menyalurkan bibit maupun benih sawit yang bersertifikat kepada petani. Selain itu, petani diharapkan bisa selalu berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Disbun Kaltim untuk pengadaan bibit sawitnya.

Menurut dia, berbagai upaya dilakukan Disbun Kaltim terutama dengan mengoptimalkan kinerja Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perkebunan. Berbagai tempat diawasi termasuk pintu masuk peredaran bibit seperti bandara, pelabuhan maupun terminal.

Saat melaksanakan tuganya, PPNS Perkebunan bekerjasama dengan aparat kepolisian. Kerjasama itu banyak membuahkan hasil dengan tertangkapnya para pengedar bibit maupun benih (kecambah) kelapa sawit palsu.Pada diskusi tersebut, narasumber dari PT London Sumatera Edi Setiawan mengemukakan menanam sawit tidak sama dengan menanam tanaman perkebunan lainnya.
Menanam sawit diperlukan bibit atau benih yang berasal dari indukan atau serbukan.”Menanam sawit harus diperhatikan benihnya. Sawit adalah tanaman hibrida yang memerlukan proses indukan ataupun penyerbukan yang terpilih,” ujar Edi Setiawan.

Disebutkan, harga benih (kecambah) kelapa sawit di pasaran rata-rata Rp10.000 perbenih termasuk benih yang dihasilkan PT London Sumatera. Untuk pelayanan pembelian serta menjamin keamanan benih, maka perusahaan mengantarnya hingga ke daerah bahkan ke lokasi pekebun.

Pertemuan penangkar/waralaba kelapa sawit dan PMUK  diikuti 30 orang dari beberapa kelompok waralaba/penangkar benih kelapa sawit yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Kutai Kartanegara.
SUMBER : UPTD PENGAWASAN BENIH PERKEBUNAN

Benih Sawit Wajib SNI (Standar Nasional Indonesia)



Medan, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan menerapkan kebijakan SNI (Standard Nasional Indonesia) untuk produk benih sawit dari produsen dalam negeri.
Terkait hal itu, pengamat ekonomi Gunawan Bonyamin mengatakan bahwa kebijakan tersebut tentunya baik bagi industri pertanian kita.

Sejauh ini kata dia benih yang memiliki standar SNI jelas memiliki jaminan kualitas. Tentunya dengan kebijakan tersebut kita mengharapkan adanya upaya yang lebih maju untuk meningkatkan produktifitas lahan pertanian kita.
“Sebagai contoh, lahan sawit rakyat di Indonesia setiap hektarnya hanya mampu menghasilkan 11.000 ton hingga 17.000 ton kelapa sawit per tahun. di malaysia jumlahnya bisa diatas 27.000 per tahun. Sehingga produktifitas perkebunan sawit rakyat kita masih dibawah Malaysia”ujarnya kepada wartawan Selasa (11/02).
Selanjutnya dia menambahkan bahwa dengan ditetapkannya standar mutu bibit yang baik,  peluang untuk meningkatkan produktifitas pertanian kita menjadi harapan positif. Meskipun produktifitas tidak melulu karena bibitnya yang baik, namun langkah ini merupakan sebuah langkah positif.
“Hanya saja, bila menetapkan standar SNI maka harus sudah diperhitungkan kebutuhan bibit dalam negeri dengan produsennya. Jangan sampai ada gap, dimana produsen masih belum mampu memenuhi 100% permintaan bibit nasional” tambahnya lagi.
Kemudian dia  mengatakan bahwa ada kekhawatiran hal tersebut justru memberi peluang bagi bibit  yang datang dari negara lain.

Sumber : daunhijau.com